145 Sumur Kuno Diduga Buatan Sunan Bonang

0
103

bacasaja.info Sebuah artikel berjudul ‘Mengulik Situs Sunan Bonang’, arkeolog Nurhadi Rangkuti dari Balai Arkeologi Yogyakarta menuliskan bahwa di bawah kepemimpinan Sunan Bonang, desa Bonang pernah menjadi salah satu wilayah yang terbilang padat.

Hal ini terbukti dari temuan sekitar 145 sumur kuno, yang diduga dibangun penduduk di masa kepemimpinan Sunan Bonang.

Dari sekian banyak sumur itu, dua sumur yang berada di masjid dan pesarean disebut memiliki cerita tersendiri.

Dua sumur tersebut konon dibuat oleh Sunan Bonang dengan cara menancapkan tongkatnya ke tanah. Karena itulah dua sumur itu memiliki keistimewaan airnya yang tidak pernah surut meski musim kemarau, serta rasanya tawar. Padahal pada sumur yang lain pada umumnya airnya terasa payau, karena faktor rembesan air laut.

Kunjungan tim Balai Arkeologi Yogyakarta ke Bonang pada tahun 1998 itu merupakan bagian dari tahap mengumpulkan data untuk mengkaji Bonang sebagai situs permukiman lama. Nama Bonang dihubungkan dengan Sunan Bonang, salah satu wali songo yang kisah hidup sampai meninggalnya sarat dengan dongeng dan legenda.

Kajian situs permukiman Bonang di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah merupakan kajian geografi pada situs arkeologis dengan menggunakan pendekatan keruangan. Situs permukiman Bonang merupakan tempat bermukim Sunan Bonang, salah satu anggota wali suci dari Wali Songo, penyiar agama Islam di pantai utara Jawa pada tahun 1475-1525.

Bukti-bukti arkeologis yang menunjukkan adanya permukiman kuna di Situs Bonang antara lain berupa tapak bangunan tempat tinggal, masjid, sumur-sumur, bangunan-bangunan rumah tradisional Jawa, dan artefakartefak yang ditemukan dalam penggalian arkeologis, berupa alat-alat perlengkapan rumah tangga diantaranya pecahan-pecahan keramik yang berasal dari Cina, Thailand dan Vietnam dari abad XV hingga awal abad XX.

Pada abad XJX, jalan pos yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels (1808,-1811) melintasi permukiman Bonang.

Sunan Bonang juga banyak menghasilkan karya seni baik dalam bentuk tembang, lirik, komposisi musik, bahkan seni kriya. Selain itu ia merupakan sosok wali yang memiliki tradisi literasi yang baik. Banyak karya tulis yang dibuatnya, Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain.

Sunan Bonang juga menambahkan instrumen baru pada gamelan. Yaitu bonang (diambil dari gelarnya sebagai wali yang membuka pesantren pertama di Desa Bonang). Bonang adalah alat musik dari Campa, yang dibawa dari Campa sebagai hadiah perkawinan Prabu Brawijaya dengan Putri Campa, yang juga saudara sepupu Sunan Bonang.

Instrumen lain yang ditambahkan pada gamelan ialah rebab, alat musik Arab yang memberi suasana syahdu dan harus apabila dibunyikan. Rebab, yang tidak ada pada gamelan Bali, sangat dominan dalam gamelan Jawa, bahkan didudukkan sebagai raja instrumen.

Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).

Sedangkan Suluk Wujil ditranskripsi Purbatjaraka dengan pembahasan ringkas dalam tulisannya “Soeloek Woedjil: De Geheime leer van Soenan Bonang” (majalah Djawa no. 3-5, 1938).

Melalui karya-karyanya itu kita dapat memetik beberapa ajarannya yang penting dan relevan. Purbatjaraka menyebutnya sebagai ajaran rahasia untuk orang-orang tertentu saja. Rahasia artinya tidak begitu saja bisa dipahami, seperti dapat diperiksa dari kutipan-kutipan berikut:

“Tak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki berada, sekalipun mereka melakukan perjalanan sejak muda hingga tua renta. Mereka tak akan sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup, ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi wali.”

Ada lagi peninggalan Sunan Bonang yaiti bende becak. Bende” adalah benda berbentuk gong kecil berwarna hitam ini hanya memiliki garis tengah 10 cm. Sunan Bonang menggunakan “Bende” ini untuk memberi kabar atau undangan kepada teman Wali Songo.

Selain itu “Bende Becak” juga berfungsi sebagai tanda pemberitahuan akan terjadinya suatu peperangan atau musibah. Bende becak juga salah satu benda peninggalan sunan Bonang sewaktu berdakwah di Bonang desa kecil di Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, benda pusaka ini berupa gong kecil beserta pemukulnya.

Setiap tanggal 10 Dzulhijah (Hari Raya Idul Adha), pada Acara Penjamasan Bende Becak, juru kunci desa Bonang Kec. Lasem membagikan ketan kuning dengan kelapa manis. Selain bende becak becak tersebut banyak peniggalan Sunan Bonang, diantaranya Pasujudan Sunan Bonang, Dalem (rumah) Sunan Bonang,masjid Sunan Bonang, suluk dan makam Sunan Bonang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here