indonesianews.today – Pasuruan, Jawa Timur terdapat sebuah warisan Raja Airlangga yang berupa petirtaan. Inilah Candi Sumber Tetek, air yang keluar dari patung dewi-dewi di sana diyakini bisa membuat awet muda. Ini adalah cerita perjalanan saya mengunjungi Candi Sumber Tetek di Pasuruan, Jawa Timur. Setelah tidak berhasil melihat dari dekat kondisi yang sebenarnya kamar Rusunawa Puspo Agro karena tidak mendapatkan izin dari satpam yang angker itu, saya putuskan kembali ke Gresik. Namun belum jauh kami meninggalkan Puspa Agro, sang istri mengusulkan agar saya melanjutkan perjalanan menuju Gempol, Pasuruan saja.

Jauh-jauh hari saya memang punya rencana untuk mengunjungi objek sejarah di Kecamatan Gempol, Pasuruan itu. Di sana menjadi tempat Candi Sumber Tetek atau Candi Belahan yang diperkirakan menjadi warisan Prabu Airlangga dari Kerajaan Kahuripan (Kediri).

Rasa kecewa akhirnya terobati, meski cuaca kurang bersahabat. Maklum sudah mulai masuk musim hujan. Meski begitu, tak menghalangi hasrat kami untuk tetap menjelajah. Tanpa banyak pertimbangan, kendaraan saya pacu menuju Kecamatan Gempol di Pasuruan. Untuk  sampai ke Gempol, perjalanan bisa diawali dari pusat Kota Sidoarjo menuju jalan raya Surabaya arah Malang.

Sesampai di kawasan Apollo Surabaya arah Malang, kendaraan kami pacu perlahan. Sesuai informasi yang saya terima, dari pom bensin di kawasan Apollo itu, sekitar 30 meteran terdapat jalan menuju Candi Sumber Tetek. Ada penanda jalan menuju candi meski ukurannya kecil.

Mulai dari Jalan Raya Apollo Surabaya arah Malang, sampai Desa Jeruk Purut, jalan yang kami lalui masih mulus. Berkendarapun terasa nyaman. Suasana mendung tapi tidak hujan, dipadu sejuknya udara pegunungan menjadikan perjalanan kami tidak melelahkan.
Kami terkagum saat melewati jalanan ber-paving block di Desa Jeruk Purut. Jalanan desa itu terbilang lebar untuk ukuran sebuah jalan di pedesaan. Paving yang dipasang kelihatannya juga berkualitas baik. Banyak kendaraan besar lalu-lalang melenggang leluasa di jalan itu. Sesekali terlihat petugas portal menarik biaya masuk untuk kendaraan-kendaraan besar itu.

Memasuki Desa Belahan, (beberapa orang desa yang saya temui menyebutnya dengan nama Desa Belaan (tanpa huruf H) jalanan mulai terasa kurang nyaman. Namanya juga kawasan di pegunungan. Sebenarnya jalan menuju Candi Sumber Tetek sudah beraspal. Namun keadaannya rusak berat, hal itu menambah berat perjalanan menuju ke sana. Saat melewati jalanan di sana, beberapa petugas terlihat sedang memperbaiki jalan satu-satunya menuju situs purbakala itu.

Candi Sumber Tetek berada di lokasi dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Tepatnya terletak di Desa Belahan, Wonosunyo, Gempol, Pasuruan. Mungkin karena posisinya di lereng Gunung Penanggungan dengan treking yang tajam dan membahayakan, sehingga kurang banyak disinggahi wisatawan. Lain dengan Candi Jolotundo di Trawas Mojokerto yang sama-sama menjadi warisan Prabu Airlangga. Meski jalanan  menanjak menuju pegunungan, namun beraspal mulus.

Anak dan istri telah berulang kali meminta kepada saya agar tidak melanjutkan perjalanan, mengingat medan yang kami lalui cukup berat. Saya katakan kepada mereka, “Nanggung, lha wong sudah dekat dengan lokasi candi kok malah ngajak pulang.” Saya meminta mereka untuk bersabar.

Setidaknya panorama cantik persawahan bertingkat (terasering) milik warga yang berada di lereng Gunung Penanggungan menjadi pengobat rasa takut yang tak terkirakan. Mereka akhirnya melupakan perjalanan yang berat dan melelahkan itu. Seolah terhipnosis menyaksikan karunia alam di Gunung Penanggungan itu.

Di pintu masuk candi saya bertemu Pak Astono yang sehari-harinya sebagai juru pelihara situs ini. Seperti kunjungan-kunjungan kami sebelumnya. Setiap bertemu juru pelihara situs, pasti mereka meminta saya mengisi buku tamu, katanya untuk laporan di kantor. Setelah beramah-tamah sebentar dengan Pak Astono, kami meminta izin memotret dan mencuci muka di air yang keluar dari salah satu arca Candi Sumber Tetek itu.

Candi Sumber Tetek diduga merupakan petirtaan (tempat mandi) yang di peruntukkan bagi kedua permaisuri Raja Airlangga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Uniknya, di kedua puting payudara (tetek) Dewi Laksmi  itu mengeluarkan air. Kedua arca itu melambangkan kesuburan.

Dulunya di candi itu sebenarnya juga ada arca wisnu menunggang garuda, yang kini disimpan di museum purbakala Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Sebagian ahli berpendapat kalau Wisnu disini merupakan perwujudan Airlangga yang memang semasa hidupnya setia menganut Dewa Wisnu. Mungkin karena keadaan seperti inilah, sehingga masyarakat setempat kemudian menamakan candi ini dengan sebutan Candi Sumber Tetek.

Kedua arca terbuat dari batu andesit dengan relief yang menawan dan menempel pada susunan bata. Di sebelah kiri arca-arca tadi juga berdiri tembok bata, diduga mungkin di sebelah kanannya dulu juga ada. Sebab gaya arsitektur purba  sudah mengenal teori simetrisme. Di sudut antara tembok bata kiri dan tembok sandaran kedua arca dewi tersebut, kita juga menemukan relief cantik.
Entah apa maksud yang sebenarnya dari relief itu. Di kompleks Candi Sumber Tetek juga kita temukan beberapa arca dari batu andesit. Sebuah arca yang sudah pecah dengan relief unik.

Dari keterangan yang dilaporkan oleh peneliti Belanda bernama F. Stutterheim, diketahui kalau Candi Sumber Tetek ini dibangun pada abad ke-11. Hal ini seperti angka tahun yang terpahat pada batu ini, menunjukkan tahun 971 Caka, atau 1049 Masehi. Satu lagi berbentuk batu tegak (menhir) berukuran setinggi pinggang orang dewasa.
Di tembok kiri terpasang pipa ledeng yang airnya tak pernah berhenti mengalir. Di pipa inilah warga sekitar biasa menampung air ke dalam cerigen untuk keperluan sehari-hari. Di tengah antara kedua arca dewi tersebut, pengunjung bisa saksikan batu andesit kotak setinggi dada orang dewasa.

Terlihat ada sisa lidi hio di sini. Situs purbakala warisan para leluhur biasanya memang tidak luput dari buruan para pencari berkah. Biasanya pada malam Jumat Legi, tempat ini didatangi para pelaku ritual tertentu itu.

Candi Sumber Tetek di Gempol, Pasuruan, bila diperhatikan soal asal air sumbernya, ada kemiripan dengan Candi Jolotundo di Trawas-Mojokerto. Keduanya sama-sama warisan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan (Kediri).

Sumber airnya diperkirakan berasal dari kaki bukit di atasnya. Itu sebabnya arsitek atau pembuat petirtaan ini dulunya sengaja menempatkan kedua candi (petirtaan) itu tepat di belakang kaki bukit yang ada sumbernya.

Air yang keluar dari tetek Dewi Laksmi ini tertampung dalam kolam berukuran kira-kira 5X6 meter persegi, dengan kedalaman setinggi lutut orang dewasa, atau sekitar 75 centimeteran.

Anehnya air tak pernah meluber keluar dari kolam, hal ini mungkin karena ada saluran atau lubang halus yang tak terlihat oleh mata kita. Menurut Pak Astono, di musim kemarau pun sumber air candi ini tak pernah surut. Sebagian pengunjung meyakini kalau air Candi Sumber Tetek ini bikin wajah awet muda dan berkhasiat seperti obat.
Masyarakat Desa Wonosunyo, Belahan, dan desa-desa lain di sekitarnya sering memanfaatkan air yang keluar dari candi ini untuk kebutuhan air minum sehari hari. Mereka biasanya langsung mengkonsumsi air itu tanpa harus merebusnya terlebih dulu.
Candi Sumber Tetek sudah berusia ribuan tahun. Menurut pengakuan Pak Astono, bangunan candi belum pernah tersentuh oleh proyek pemugaran. Pembangunan selama ini hanya pada pagar pembatas candi. Jadi, selama ribuan tahun Candi Sumber Tetek belum direnovasi sehingga didapatkan bentuk menyerupai aslinya.

Sayangnya, pemerintah daerah atau pengelola situs kurang memperhatikan fasilitas dan sarana penunjang wisata sejarah ini. Warung makanan, toilet, dan tempat parkir yang memadai juga belum terlihat di sana.

Tempatnya yang berada di atas pegunungan merupakan nilai lebih yang seharusnya menjadi daya pikat wisatawan. Jalan menuju candi yang rusak berat harusnya menjadi prioritas utama yang harus segera ditangani. Supaya, wisatawan dengan nyamannya bisa mengunjungi warisan Raja Airlangga ini.

Sumber : ilovepasuruan.blogspot.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here