Kiprah Paramedis Jalanan Saat Aksi Massa

0
22

Berbekal pendidikan medis dasar, para personel Paramedis Jalanan turun di tiap aksi besar untuk memberikan pertolongan pertama. Sering mendapat intimidasi meski sudah membawa tanda pengenal medis, termasuk dalam demo anti-omnibus law.

banyak korban dalam rangkaian aksi demonstrasi ’’reformasi dikorupsi’’ September 2019 lalu sangat lekat di ingatan Alviani Sabillah.

Dia yang juga ikut turun ke lapangan kala itu harus melihat dengan mata dan kepala sendiri kawan seperjuangannya terluka tanpa ada pertolongan medis yang cepat.

Kalaupun ada, hanya pertolongan spontanitas tanpa standar peralatan minimal yang memadai. Sisi kemanusiaannya pun tergugah.

Perempuan berjilbab itu pun akhirnya ikut menginisiasi lahirnya kelompok Paramedis Jalanan. Bersama sembilan kawan lain yang berlatar mahasiswa, buruh, dan aktivis medis. Sebuah kumpulan yang bertugas memberikan pertolongan pertama kepada massa aksi yang menjadi korban represivitas aparat saat demonstrasi.

’’Kami mulai tahun lalu tanggal 28 September,’’ ujarnya.

Sejak dibentuk, kelompok Paramedis Jalanan berjalan dengan konsep yang cair. Tidak ada struktur layaknya organisasi.

Namun, mereka konsisten untuk turun ke lapangan. Dikomandoi rasa kepedulian bersama. Khususnya di aksi-aksi yang berkaitan erat dengan kepentingan publik dan dinilai memiliki potensi keributan. Misalnya, aksi peringatan Hari HAM, Hari Buruh, hingga yang terbaru pada aksi penolakan omnibus law Kamis lalu (8/10) di Jakarta.

’’Ketika aksinya penting untuk dilakukan, kami akan turun,’’ imbuhnya.

Untuk aksi yang skalanya kecil, terlebih yang bermuatan politik praktis dan tidak terkait dengan kepentingan umum, Alvi dkk menghindari. ’’Karena selama ini kami bagian dari massa aksi, hanya mengambil posisi berbeda,’’ kata dia.

Meski bernama Paramedis Jalanan, Alvi menyebut sebagian besar yang bergiat di dalamnya tidak memiliki latar belakang pendidikan medis sama sekali. Dia sendiri, misalnya, seorang mahasiswa hukum.

Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah yang didasari kesadaran dan kepedulian tersebut. Sadar kemauan saja tak cukup, Paramedis Jalanan pelan-pelan mempelajari ilmu medis dasar. Bahkan, para dokter dan perawat digandeng untuk memberikan pelatihan.

Hasilnya cukup baik. Saat ini setidaknya para anggota memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan pertama dalam situasi yang khas demonstrasi. Mulai sesak napas karena gas air mata, pingsan akibat berdesakan, keseleo, hingga luka di badan.

’’Misal lihat ada orang robek, kita tutup supaya darah nggak keluar banyak,’’ tuturnya.

Sementara itu, tindak lanjutnya tetap diserahkan kepada petugas kesehatan di rumah sakit. ’’Kami bantu telepon ambulans,’’ ujarnya.

Karena hanya bersifat pertolongan pertama, bekal peralatan yang dibawa juga tidak terlampau rumit. Biasanya, mereka membawa perban, Betadine, minyak kayu putih, dan sejumlah obat-obat ringan lainnya di sebuah boks lengkap dengan tandu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here