Kisah Suekarno Atas Kekhawatiran Ratna Sari Dewi

0
78

bacasaja.info Tahun 1965, Presiden Sukarno mengumpulkan menteri-menteri Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Soal yang akan dirapatkan tak lain adalah peristiwa pembunuhan enam jenderal utama Angkatan Darat yang terjadi sepekan sebelumnya.

Dalam sidang itu PKI, yang dituding berada di balik layar Peristiwa G30S, diwakili Njoto dan M.H. Lukman. Aidit, sang ketua, belum diketahui keberadaanya. Pada pokoknya, Njoto menyatakan bahwa PKI tak terlibat dan peristiwa itu adalah masalah internal Angkatan Darat.

Presiden Soekarno sendiri kemudian angkat bicara, menganggapnya sebagai peruncingan biasa dalam suasana revolusi.

“Een rimpeltje in de oceaan—riak-riak kecil di tengah lautan,” demikian kata Soekarno.

Wartawan secara terbatas dibolehkan meliput sidang itu. TVRI pun menyiarkannya, sehingga Ratna Sari Dewi, istri Soekarno yang orang Jepang itu, bisa menontonnya dari kediamannya di Jakarta.

Selama beberapa hari ia belum bertemu suaminya dan tentu saja ia gusar. Tapi tayangan TVRI itu bukannya mengobati, malah membikin Dewi makin gusar. Di layar TV Soekarno tampak tenang dan banyak senyum, seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Soekarno tampak santai guyonan dengan wartawan dan merokok. Melihat itu Dewi kecewa dan lantas menulis surat untuk memperingatkan Soekarno.

Halaman:

Di tengah situasi yang tak menentu seperti saat itu, sikap Soekarno jelas rawan disalahartikan. Terlebih Soekarno tak hadir dalam pemakaman para jenderal sehari sebelumnya.

Dua hari setelahnya, Soekarno membalas surat Dewi. Soekarno menjawab:

“Kamu jangan salah memahami saya, pada rapat kabinet itu saya tersenyum untuk menunjukkan kepada dunia bahwa saya aman dan bahwa situasi adalah sudah kukembalikan. Saya juga tertawa untuk memberi kepercayaan dan kekuatan kepada rakyat saya.”

Nyatanya Soekarno salah perhitungan dan kekhawatiran Dewi terjadi, desas-desus bahwa Presiden kemungkinan terlibat atau minimal tahu terlebih dahulu peristiwa G30S PKI segera tersebar liar.Sejak itu, Soekarno tak lagi punya kendali penuh di atas politik sebagaimana ia yakini.

Menuju lonceng kejatuhan, itulah lonceng pembuka babak akhir perjalanan politik dan kehidupan Soekarno. Setelah PKI dibabat habis, politik keseimbangan yang ia mainkan sejak 1960 runtuh dan Angkatan Darat kini tak terbendung.

Jenderal Soeharto perlahan-lahan mengambil alih panggung dan menyisihkan Soekarno. Lonceng kedua berdentang ketika Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1906, esoknya Soeharto membubarkan PKI.

Kemudian pada tanggal 18 Maret menangkap 15 Menteri loyalis Soekarno, lalu pada 27 Maret Soekarno dengan sangat terpaksa mengumumkan Kabinet baru bentukan Soeharto. Setelah segala kewenangan dipreteli, Soekarno diperlakukan tak lebih sebagai tukang teken dokumen.

Selanjutnya, Soehartolah yang memegang kendali dan mulai menjalankan kebijakan-kebijakan yang sebagian besar bertolak belakang dengan kebijakan Soekarno, ia bahkan dibatasi berbicara dihadapan publik.

“Saya diam dalam seribu bahasa, katanya ketika melihat kekuasaannya mulai beransur-ansur diambil dari tangannya, sedangkan ia saat ingin menyatakan pendapatnya,” tulis lenjeh (halaman 464)

Soekarno bukannya tak mau berbuat apa-apa, pada 22 Juni 1966 di hadapan MPRS, ia menyampaikan pidato pertanggungjawaban selama menjadi Presiden dan soal peristiwa G30S.

Pidato berjudul nawaksara tersebut ditolak oleh MPRS, Soekarno lalu menyampaikan pelengkap nawaksara pada tanggal 10 Januari 1967 yang lagi-lagi ditolak oleh MPRS, itu adalah usaha terakhirnya untuk mempertahankan diri dan ia kalah.

Pada 12 Maret 1967 MPRS mengumumkan secara resmi pencabutan mandat Soekarno sebagai Presiden dan kemudian menunjuk Soeharto sebagai pejabat Presiden. Meski Soeharto baru dilantik jadi Presiden betulan setahun kemudian jelas bahwa Soekarno kini bukanlah siapa-siapa lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here