Menjelang Pergantian Musim, Diperkirakan Suhu Panas Sampai Oktober di Surabaya

0
34

Warga Surabaya mengeluhkan suhu udara yang panas dalam beberapa hari terakhir. Tak hanya terjadi pada saat siang, ketika malam pun masih gerah. Sumuk.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Surabaya dan sekitarnya. Sebagian besar Jawa Timur hingga wilayah Indonesia bagian timur yang berada di selatan khatulistiwa mengalami hal serupa. Meski demikian, suhu udara disebut masih berada di kisaran normal. Yaitu, 36 derajat Celsius.

Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya Adi Hermanto menjelaskan, hal itu merupakan situasi yang normal dari pergerakan semu matahari di atas garis khatulistiwa bumi. ”Biasanya, itu disebut sebagai fenomena ekuinoks. Tapi, bukan berarti cuaca ekstrem,” katanya kemarin (25/9).

Dia menambahkan, pergerakan semu matahari itu terbilang selalu terjadi dua kali setiap tahun. Yaitu, pada akhir Maret dan akhir September. Nah, kali ini posisi matahari tepat berada di khatulistiwa pada Rabu (23/9). Saat ini, pergerakan semu tersebut menuju selatan khatulistiwa. Posisi matahari berada di dekat katulistiwa yang bergerak menuju selatan.

Menurut dia, posisi Surabaya berada di 7 derajat Lintang Selatan (LS) sehingga tidak dilintasi matahari secara langsung. Meski tidak tepat berada di Surabaya, dampak kenaikan suhu sangat terasa. Panas. ”Sekarang ini (matahari) ada di 1 derajat LS. Sekitar Sulawesi. Temperatur masih normal,” jelasnya.

Dia menegaskan, tak ada potensi matahari bergerak tepat di atas Surabaya dan sekitarnya. Dalam garis LS yang sejajar, yang dilintasi itu, kata Adi, kawasan Mataram (NTB) dan beberapa daerah di NTT.

Disinggung tentang waktu pergerakan semu matahari yang paling dekat dengan Surabaya, Adi mengatakan terjadi pada 10−11 Oktober. Nah, dampaknya terhadap warga diperkirakan lebih terasa pada saat itu. Namun, dia kembali menegaskan bahwa suhu tetaplah normal, 36 derajat Celsius.

”Jadi, posisinya itu (sudut sinar dan permukaan bumi, Red) agak miring, enggak langsung turun ke Surabaya,” ungkapnya. Suhu panas yang berimbas ke Surabaya itu diprediksi terjadi hingga akhir Oktober.

Ekuinoks disebut sebagai salah satu tanda pergantian musim yang juga diikuti arah angin. Jika sebelumnya berembus dari timur, selanjutnya angin akan berembus dari barat atau yang dikenal dengan angin baratan atau muson barat. Sebagai tanda masuknya musim hujan.

”Pancaroba ya. Antara Oktober dan November untuk Surabaya. November sudah masuk musim hujan,” tuturnya.

Selain itu, dia menjelaskan penyebab saat malam juga terasa panas. Itu disebabkan energi panas yang saat ini didapat bumi belum bisa dikeluarkan sepenuhnya. Tertahan di atmosfer. Karena itu, sebelum suhu dikeluarkan, matahari telah memancarkan panasnya keesokannya.

Dia pun mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kesehatan dan mewaspadi gangguan dehidrasi. Terlebih yang aktivitasnya berada di luar ruangan. ”Minum vitamin dan perbanyak air putih supaya terhindar dari dehidrasi,” imbaunya.

Purnomo, salah seorang nelayan di kawasan Tambak Wedi, menyadari kondisi cuaca yang meningkat itu. Dia mengaku, melaut dengan cuaca terik terkadang tidak membuahkan hasil yang maksimal serta tidak baik bagi kesehatan. Untuk itu, dia lebih memanfaatkan waktu dengan membersihkan perahu.

”Biasanya sih enggak banyak. Saya perbaiki kapal saja sekalian istirahat dulu,” tuturnya.

Dampak cuaca yang panas juga sangat terlihat di kawasan barat Surabaya. Tambak-tambak di Pakal mengering. Tanpa air, para petambak membiarkan lahannya tak diisi benih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here