Pengembangan Vaksin Merah Putih Harus Tetap Dilakukan Supaya Tidak Jadi Anak Tiri

0
141

Aktifitas harian Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Surabaya, Ni Nyoman Puspaningsih sedikit berubah. Semula tiap hari ia harus berkantor di laboratorium standar keselamatan biologi level 2 (Biosafety Level 2) milik kampus.

Puspaningsih telah mengundurkan diri  sejak pengembangan vaksin Merah Putih terganjal oleh ketersediaan alat pemurni bibit vaksin dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional. Alat itu penting untuk melanjutkan persiapan uji preklinis ke hewan, sebelum ke manusia.

Pemurnian bibit vaksin tak bisa dilakukan di sembarang laboratorium.

“Pemurnian itu penting dilakukan sebelum (bibit vaksin) dimasukkan ke hewan agar tidak ada kontaminan lain. Jadi, sampai hari ini kita masih menunggu alat tersebut,” ujar ahli biomolekuler itu kepada Alinea.id, Selasa(19/1).

Puspaningsih merupakan salah satu peneliti yang dipercaya Kementerian Ristek/BRIN untuk mengembangkan Vaksin Merah Putih. Ada tujuh lembaga, yakni Unair, UI, UGM, LIPI, Unpad, ITB, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dengan enam platform berbeda yang terlibat dalam pengembangan vaksin ini. Ini ikhtiar agar Indonesia tidak tergantung pada vaksin negara lain.

Karena hambatan itu, Puspaningsih memastikan, pengembangan Vaksin Merah Putih molor dari target. Awalnya, uji preklinis ditargetkan berlangsung pertengahan Desember 2020. “Akibat alatnya belum datang, ya jadinya kita mundur dua bulan. Itu kan waktu yang lumayan,” ucap Puspaningsih.

Dampak ikutannya, uji klinis vaksin dengan platform viral vektor ini juga bisa molor hingga Agustus 2021. Unair mengembangkan vaksin dengan dua tipe strain virus SAR-Cov-2 yang menginfeksi warga Indonesia. Ia khawatir Vaksin Merah Putih yang ditargetkan rampung pada 2022 itu bakal meleset.

Puspaningsih mengaku, Kementerian Ristek/BRIN sudah menindaklanjuti kendala yang ada. Kini masalah ada pada transportasi yang terganggu karena pandemi. Maklum, alatnya harus diimpor.

Bagi Puspaningsih, Vaksin Merah Putih adalah solusi agar Indonesia tidak bergantung dengan vaksin Covid-19 dari impor yang ketersediaannya amat terbatas. “Penduduk kita besar sekali, pasti butuh banyak vaksin. Kalau kita menggunakan vaksin sendiri, pasti menghemat anggaran,” ujar dia.

Pemerintah sudah memulai vaksinasi Covid-19 sejak 13 Januari 2021. Dimulai dari Presiden Joko Widodo, pada tahap awal vaksinasi menyasar tenaga kesehatan sebanyak 1,3 juta jiwa. Menggunakan CoronaVac, vaksin buatan Sinovac asal Tiongkok, vaksinasi gratis akan menjangkau 181 juta warga.

Butuh perhatian serius

Desakan agar pemerintah serius mengembangkan vaksin sendiri datang dari Mulyanto. Menurut anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PKS itu, Vaksin Merah Putih penting agar Indonesia tidak tergantung vaksin impor, juga tidak menjadi pasar bisnis yang empuk bagi raksasa farmasi dunia.

Ia mengatakan, anggaran negara bakal terkuras bila Indonesia tidak segera beralih ke vaksin milik sendiri. “Karenanya masuk akal bila kita menggesa riset dan produksi Vaksin Merah Putih. Jangan sampai baru diproduksi saat pasar vaksin sudah jenuh,” ujar Mulyanto kepada Alinea.id, Senin (18/1).

Ilustrasi vaksin. Foto Pixabay.

Ilustrasi vaksin. Foto Pixabay.

Mulyanto meminta pemerintah sigap mengurai masalah agar perkembangan Vaksin Merah Putih terjaga dan bisa segera diproduksi. “Perlu intervensi negara untuk mendorong riset dan produksi vaksin Merah Putih. Ini penting, agar kita tidak sekadar menjadi negara pengguna dan pembeli.”

Rahmad Handoyo, anggota Komisi IX DPR, bersikap berbeda. Menurut politikus PDI Perjuangan ini riset vaksin tidak bisa diburu-buru. Ada proses panjang, yang bahkan memakan waktu tahunan, yang harus dilalui dalam pengembangan vaksin. Ini untuk memastikan efektivitas dan keamanan.

Rahmad setuju pengembangan Vaksin Merah Putih perlu didukung anggaran memadai. “Soal anggaran dari dulu saya mempertanyakan, waktu masih di angka Rp25 miliar. Saya kritik keras di rapat dengan Menteri Ristek/BRIN Bambang Brodjonegoro. Enggak mungkin dana segitu buat vaksin,” ucapnya.

Di kemudian hari, Rahmad melihat pemerintah tampak makin serius mengembangkan vaksin ini. Termasuk komitmen anggaran. Namun, ia belum yakin vaksin Merah Putih bisa diproduksi pada 2022 sesuai target. Selain anggaran, kata dia, masih banyak proses yang harus dilalui.

Jalan panjang

Adanya kendala dalam pengembangan Vaksin Merah Putih diakui oleh Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Bidang Penelitian Translasional, David Handojo Muljono. Namun, ia enggan membeberkan detail. “Ada berbagai aspek, termasuk hal-hal confidential. Banyak rahasia negara. Saat ini dibahas delapan kementerian,” ujar Handojo kepada Alinea.id, Selasa (20/1).

Sebaliknya, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menganggap tidak ada kendala berarti dalam pengembangan vaksin di lembaganya. Diakui Amin, pada tahap awal pihaknya terkendala oleh teknologi penunjang pembuatan vaksin yang belum memadai.

“Sebetulnya tidak ada (kendala) yang istimewa. Sekarang teknologi sudah berkembang, jadi kita harus memperbarui beberapa alat yang sudah lama untuk memastikan bahwa alat itu masih berfungsi dengan baik. Kalau alat baru kan lebih akurat, lebih bagus untuk produknya,” ucap Amin.

Masalahnya, pengadaan alat impor terganggu oleh rantai distribusi yang terguncang pagebluk. Rute penerbangan terbatas, kargo juga berkurang. Itu membuat pengiriman barang memakan waktu lebih panjang. Kendala seperti ini juga dialami ketika harus membeli reagen, yang juga diimpor.

Kepada Alinea.id, Selasa (19/1), Amin menjelaskan bahwa vaksin kini sudah dalam tahap finalisasi pembentukan protein rekombinan untuk dijadikan bibit vaksin Merah Putih. “Saat ini kami dalam persiapan bisa menyerahkan bibit vaksin itu ke PT Bio Farma pada akhir Maret nanti,” ujar Amin.

Amin menyebut, Eijkman menggunakan metode protein rekombinan, yang hanya mengambil protein virus untuk mengembangkan vaksin. Metode ini lebih aman ketimbang cara mematikan virus utuh layaknya CoronaVac. Tapi, jelas Amin, metode ini membutuhkan waktu yang lebih lama.

Ihwal anggaran, Amin mengaku tidak lagi tertatih-tatih karena telah diperkuat Kemenristek/BRIN. Pengembangan vaksin mandiri, jelas Amin, memakan biaya besar. Ongkos terbesar untuk tahap uji klinis. “Karena melibatkan ribuan atau bahkan puluhan ribu subjek. Satu subjek bisa jutaan rupiah.”

Subjek uji klinis bisa mencapai belasan ribu apabila vaksin diharapkan mendapatkan persetujuan internasional. Anggaran itulah yang harus disediakan dari sekarang bila vaksin ingin cepat diproduksi.

Amin mengatakan, Eijkman sudah berbicara dengan berbagai perusahaan farmasi yang ingin terlibat dalam uji klinis dan produksi Vaksin Merah Putih. Mereka harus menyiapkan fasilitas yang memenuhi syarat cara produksi obat yang baik (CPOB). Ini bisa memakan waktu 6 bulan atau setahun.

Bila tidak ada kendala, kata dia, Vaksin Merah Putih ditargetkan siap produksi pada paruh kedua 2022. Ia berharap semua unsur pendukung konsentrasi penuh untuk perkembangan vaksin ini. “Untuk memastikan Vaksin Merah Putih ini aman, halal dan efektif itu kira-kira baru bisa pada pertengahan tahun 2022 dan setelah itu baru kita bisa minta otoritasi dari BPOM,” kata Amin.

Tiga kandidat

Dihubungi Alinea.iddalam kesempatan terpisah, Kamis (21/1), Menteri Ristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengklaim sudah memenuhi kebutuhan pengembangan Vaksin Merah Putih. Namun, dukungan anggaran hanya sampai pembuatan bibit vaksin dan uji klinis.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro. Foto Antara.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro. Foto Antara.

Bambang mengaku menyiapkan anggaran Rp100 miliar untuk setiap lembaga yang mengembangkan bibit Vaksin Merah Putih guna uji klinis dan penyerahan bibit ke Bio Farma. Saat ini, klaim Bambang, ada tiga tipe vaksin yang siap diolah lebih lanjut di Bio Farma, yakni versi Eijkman, UI, dan Unair.

“Tapi kendala justru keterbatasan di Bio Farma yang baru bisa mengakomodasi dua platform dan terbatas sarana purifikasinya,” kata Bambang.

Bambang mengatakan, pemerintah sengaja membagi proyek pengembangan Vaksin Merah Putih kepada sejumlah lembaga riset dan perguruan tinggi yang memiliki platform berbeda. Agar terjadi peningkatan kapasitas ilmuwan di masing-masing lembaga.

“Supaya teknologi pengembangan vaksin di Indonesia berkembang dengan mencoba platform terbaru. Karena Indonesia masih  harus berhadapan dengan penyakit yang butuh vaksin, seperti malaria, demam berdarah, dan pandemi masa depan,” ujar Bambang.

Menciptakan ekosistem

Dihubungi terpisah, ahli farmasi Universitas Pancasila, Sampurno mengatakan, pembuatan vaksin mandiri adalah langkah penting sebuah negara tidak tergantung vaksin impor. Harga vaksin impor dengan segala hak eksklusif, paten misalnya, bisa kapan saja naik sesuai kehendak produsen.

Ia mengatakan, darurat kesehatan saat ini membuat pasokan dan permintaan vaksin tidak seimbang. Jumlah penduduk dunia saat ini mencapai 7,8 miliar jiwa. Jika satu orang perlu 2 dosis untuk vaksinasi, total dibutuhkan 15,6 miliar vaksin. Kapasitas manufaktur pada 2021, mengutip perkiraan McKinsey & Company (2020), bisa mencapai 8,4 miliar. Masih ada kekurangan 7,2 miliar dosis.

Ini membuat setiap negara rela membayar mahal vaksin. Sebab, menyangkut keselamatan masyarakat. Bahkan, banyak negara, terutama yang kaya, rela mengijon vaksin terlebih dahulu. “Jalan tengah agar itu tidak terjadi ya buat sendiri, meskipun prosesnya lama,” ujar mantan Kepala BPOM itu.

Pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, menilai wajar progres Vaksin Merah Putih lemot. Indonesia memang belum berpengalaman membuat vaksin sendiri. PT Bio Farma, kata dia, memang memproduksi vaksin. Tapi vaksin pihak lain, bukan dikembangkan sendiri sejak awal.

“Nah, kalau Bio Farma saja belum bisa, apalagi kampus-kampus Indonesia,” ujar Ahmad.

Akan tetapi, Ahmad yakin SDM Indonesia mampu membuat vaksin. Mereka hanya perlu pengalaman. Karena itu, ia juga tidak heran bila progres Vaksin Merah Putih tidak secepat vaksin produksi farmasi asal Amerika Serikat, Moderna, atau perusahaan bioteknologi asal Jerman, Pfizer-BioNTech.

Moderna dan Pfizer-BioNTech, kata Ahmad, sudah berpengalaman membuat vaksin. Moderna dan Pfizer-BioNTech tercatat berhasil membuat vaksin virus mematikan, seperti vaksin Ebola dan Zika. Pfizer juga berpengalaman membuat vaksin kanker kulit yang jauh lebih rumit dari vaksin Covid-19.

“Karena kita masih belum banyak pengalaman, wajar 6 bulan belum keluar-keluar benihnya. Padahal, Moderna dalam 3 minggu sudah keluar purwarupa-nya, langsung cek di hewan. Terbukti hewan bisa terproteksi, langsung lanjut fase 1, fase 2 dan fase 3 dan kurang dari 9 bulan keluar efikasinya,” kata dia.

Indonesia nyaris membuat vaksin sendiri saat kasus flu burung menerjang pada 2007. Di bawah kepemimpinan Menteri Kesehatan Sifi Fadilah Supari, diidentifikasi apakah virus bertransmisi ke sesama manusia. Pengembangan batal karena virus flu burung tidak menular ke sesama manusia.

Bagi Ahmad, rintisan Vaksin Merah Putih harus dijadikan momen untuk mengembangkan kapasitas ilmuwan sekaligus membentuk ekosistem riset yang berkualitas guna menyelesaikan persoalan kesehatan masyarakat. “Ini kesempatan. Sebab, sekarang ilmuwan itu sudah saling berkerjasama. Padahal, mereka dulu tidak saling kenal, gara-gara pandemi mereka berkerjasama,” ujar Ahmad.

Secara pribadi, Ahmad tidak berharap banyak pada hasil akhir Vaksin Merah Putih. Bagi dia, ini kesempatan membangun kompetensi dan kapasitas ilmuwan Indonesia. Ia pun setuju dengan strategi pemerintah membagi pengembangan vaksin ke tujuh lembaga riset dan perguruan tinggi. Sebab, mereka merupakan tempat ideal riset vaksin disemai menjadi ilmu pengetahuan.

“Jadi, biarkan mereka terus berkembang, biar mereka bisa belajar. Anggap saja ini investasi jangka panjang untuk membangun kapasitas kita. Kalau enggak begitu, kita enggak akan meningkat kapasitasnya dan tidak akan bisa mandiri,” kata Ahmad kepada Alinea.id, Kamis (21/1).

Infografik Fakta Vaksin Merah Putih. Alinea.id/Bagus Priyo.
Sumber : Alinea.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here