Sejarah Ratu Kalinyamat hingga Lahirnya Kartini

0
125

bacasaja.info Berbicara Jepara tak bisa dilepaskan dengan Radeng Ajeng Kartini, tokoh perempuan Jawa yang memperjuangkan emansipasi dan kesejahteraan perempuan di masa kolonial.

Kabupaten Jepara terletak di pantai utara (pantura) timur Jawa Tengah yang bagian barat dan utaranya dibatasi langsung oleh laut.

Jepara adalah daerah paling ujung sebelah utara dari Provinsi Jawa Tengah.

Salah satu wilayah dari Kabupaten Jepara adalah Kepulauan Karimun Jawa yakni gugusan pulau-pulau di Laut Jawa.

Asal-usul nama Jepara

nama Jepara berasal dari kata ujung para, ujung mara, dan jumpara. Artinya adalahlah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah.

Diceritakan di masa lalu, ada sekelompok penduduk yang diyakini dari Yunnan Selatan yang tinggal di sebalah utara pulau Jawa. Kala ituJepara masih terpisah oleh Selat Juwan.

Sementara itu menurut buku Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M) mencatat seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa bahwa pada tahun 674 M.

Diyakini tempat yang dikunjungi I-Tsing berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini yang dipimpin oleh seorang raja perempuan bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas.

Di buku Suma Oriental yang ditulis oleh penulis asal Portugis, Tome Pires, dijelaskan jika Jepara baru dikenal pada abad ke-15 atau sekitar 1470 masehi.

Jepara dikenal sebagai kawasan bandar perdagangan kecil di bawah pemeritahan Kerajaan Demak yang dihuni sekitar 100 orang dan dipimpin Aryo Timur.

Saat Aryo Timur mangkat, ia digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus yang membangun Jepara menjadi kota Nnaga.

Pati Unus gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi jalur perdagangan nusantara. Saat wafat, Patih Unus digantikan oleh ipar Fatahillah yang bekuasa pada 1521-1536.

Pada 1536, Sultan Trenggono penguasa Demak menyerahkan Jepara kepada anaknya Ratu Retno Kencono dan suaminya, Pangeran Hadirin.

Saat Sultan Trenggono meninggal di Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, terjadi perebutan tahta di Kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.

Diceritakan Ratu Retno Kencono berduka atas meninggalnya sang suami. Ia pun meninggalkan istana dan bertapa di Bukit Danaraja.

Saat mendengar Aryo Penangsang tewas dibunuh Sutowijaya, Ratu Retno Kencana keluar dari pertapaan dan ia dilantik sebagai penguasa Jepara dan bergelar Nimas Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat dinobatkan menduduki puncak tahta pada 10 April 1549, bertepatan dengan candra sengkala Trus (Karya Titaning Bumi).

Ratu Kalinyamat merupakan keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit dari Raden Patah (Raja Demak pertama). Ayahnya sang Sultan Trenggana, adalah anak dari Raden Patah yang juga Sultan Demak III (1505-1521) (M.C. Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern).

Di masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang menjadi bandar niaga di Pulau Jawa.

Sang ratu juga dikenal memiliki jiwa patriotisme salah satunya dbuktikan saat ia mengirim armada perang ke Malakan untuk menyerang Portugis pada tahun 1551.

Kala itu serangan melibatkan 40 buah kapal yang berisi 5.000 prajurit. Namun sayangnya serangan tersebut gagal saat prajurit Kalinyanat melakukan serangan darat.

Tentara Portugis yang memiliki senjata lengkap, memukul mundur tentara Kalinyamat.

Dua puluh empat tahun setelah serangan pertama. Ratu Kalinyamat kembali mengirikan armada militernya yang lebuh besar menyerang Portugis di Malaka.

Kala itu ada 300 kapal yang di antaranya 80 buah kapal jung dengan awal 15.000 prajurit pilihan.

Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai quilimo.

Perang kedua ini berlangsung berbulan-bulan dan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka.

Namun serangan tersebut telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara. Terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.

Sepak terjang Ratu Kalinyamat membuat Portugis menyebut sang ratu sebagai Rainha de Jepara Senora de Rica yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.

Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri.

Di masa Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur.

Kartini sedang membatik dengan adik-adiknya Rukmini (tengah) dan Kardinah (kiri).

Sehingga Hari Jadi Jepara mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara yakni 10 April 1549.

Kartini dan emansipasi dari Jepara

Sementara itu di awal abad ke-20, Kartini dan dua adiknya, Kardinah dan Roekmini memperjuangkan emansipasi dan kesejahteraan perempuan di masa kolonial.

Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879 di keluarga priyayi.

Sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.

Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama.

Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Kala itu, peraturan kolonial adalah mewajibkan soerang bupati beristrikan bangsawan, Karena Ngasirah bukan bangsawan tinggi, maka Ario Sosroningrat menikah dengan Raden Adjeng Woejan keturunan langsung dari Raja Madura.

Ario Sosroningrat diangkat jadi bupati di usia 25 tahun dan ia tercatat sebagai salah satu bupati yang memberi pendikan barat kepada anak-anaknya.

Putrinya, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) dan Kartini belajar bahasa Belanda.

Namun, setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit

Kartini pun mulai menulis surat yang didokumentasikan dalam buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buku ini disusun oleh JH Abendanon, salah seorang sahabat pena Kartini yang pernah menjabat sebagai menteri (direktur) kebudayaan, agama, dan kerajinan Hindia Belanda.

Buku tersebut diterbitkan pertama kali tahun 1911.

Sejarah mencatat Kartini meninggal di usia muda yakni 25 tahun karena komplikasi kehamilan yakni pada 17 September 1904.

Ia meninggal empat hari usai melahirkan anak pertamanya Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat pada 13 September 1904.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here