Mbah Nur Durya, Kiai Paling Sakti Se-Jawa Tengah Terkanal di Kalangan Warga NU

0
119

bacasaja.info Di Daerah Walangsanga, Moga, Pemalang, Jawa Tengah, hiduplah seorang ulama terkenal. Dia bernama Kiai Nur Durya Bin Sayid atau bisa juga disebut Kiai Nur Walangsanga.

Tak hanya di desanya, pria yang akrab disapa Mbah Nur itu dikenal oleh para peziarah yang datang dari seluruh penjuru nusantara. Pada saat menjelang Bulan Sya’ban, banyak warga Nahdlatul Ulama (NU) yang mengantre untuk masuk ke area makam.

Hal yang membuat sosok Mbah Nur ini cukup terkenal di kalangan warga NU adalah keistimewaannya yang ia miliki sejak kecil. Bahkan beberapa santrinya menyaksikan sendiri bagaimana Mbah Nur mengeluarkan “kesaktian” yang tak hanya membuat orang lain terpukau, namun di sebuah momen berhasil menyelamatkan nyawa santrinya.

Lantas seperti apa bentuk “kesaktian” itu? Berikut selengkapnya:

Mbah Nur merupakan sosok yang sederhana. Lahir dengan nama Nur Durya Bin Zahid di Pemalang, Jawa Tengah, pada tahun 1873, dia memilih tinggal di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian, yaitu di pinggir sungai yang berada di tengah-tengah area persawahan. Dalam berdakwah di Desa Walangsanga, Mbah Nur giat mengajak para warganya untuk zikir berjemaah.

Tak hanya itu, Mbah Nur juga dikenal kuat menjaga wudhunya. Dia rela tidak tidur sepanjang malam untuk bermunajat kepada Allah SWT dan mendoakan orang-orang di sekelilingnya agar mendapat rahmat dan ampunan dari yang kuasa.

selain berdakwah, Mbah Nur sehari-hari bekerja dengan menggembalakan kerbau milik penduduk Desa Walangsanga. Namun saat waktu salat tiba, dia tak pernah sekalipun meninggalkan salat berjamaah hingga wafatnya.

Selain itu, Mbah Nur juga dikenal sebagai seorang yang zuhud dan tidak cinta dunia. dikisahkan ketika hendak mengambil air wudhu, dia mendapatkan uang dengan jumlah yang cukup banyak yang terletak di samping tempat wudhu. Namun uang itu tidak ia ambil karena bukan haknya.

Setelah tinggal selama 50 tahun di Desa Walangsanga, dia pergi untuk mengasingkan diri demi bisa mendekatkan diri pada Allah SWT di lereng Gunung Sembung. Ia ingin beribadah kepada Allah SWT dengan lebih khusyuk.

Di kalangan para santri ataupun orang yang mengenal sosoknya, Mbah Nur memiliki beberapa keistimewaan. Melansir dari Ipnu.com, pada tahun 2011, saat Mbah Nur sudah meninggal, seorang santrinya, KH. Abdul Muid pergi berziarah ke makam Mbah Nur.

Saat hendak pulang, mobil bis yang ia bawa macet dan tidak bisa jalan hingga pukul 3 malam. Karena itulah ia bersama rombongan memutuskan bermalam di makam Mbah Nur.

Setelah itu, tanpa diapa-apakan, mobil bisa nyala dengan sendirinya. Ketika sampai di Pemalang kota, ternyata baru sadarlah KH. Abdul Muid bahwa jalan yang dilewatinya baru saja diterjang banjir bandang dan menyebabkan salah satu jembatan putus. Setelah peristiwa itu, ia menyimpulkan Mbah Nur tidak ingin santri kesayangannya pulang karena bisa terkena musibah selama perjalanan.

Selain itu, ada pula kisah rumah Mbah Nur yang berada di pinggir sungai. Walaupun berdempetan langsung dengan aliran air sungai, namun saat banjir bandang datang, air sungai tidak pernah sekalipun merendam kediaman Mbah Nur.

Air sungai seakan miring menghindari rumah yang hanya terbuat dari bambu itu. Dari serangkaian peristiwa ini, tak heran ada orang yang menyebutnya sebagai kiai paling sakti se-Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here