Sejarah Banyuwangi Dijuluki Kota Santet, Begini Asal Usulnya

0
194

bacasaja.info Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Jawa, yang berbatasan dengan selat Bali. Sebelum berkembang seperti saat ini, siapa sangka kota yang banyak digemari dan menjadi destinasi favorit turis lokal maupun mancanegara ini, pernah mendapat julukan sebagai kota santet.

Banyak orang yang enggan untuk mengunjungi Banyuwangi pada saat itu, karena terkesan mistis dan horror. Namun, apakah anda tahu? Sejarah dibalik julukan kota santet yang disematkan pada Banyuwangi tempo lalu tersebut?

Dilansir Ringtimesbanyuwangi.com dari kanal Youtube OBOS CHANNEL pada 05 Februari 2021, asal-usul julukan kota santet untuk Banyuwangi ini bermula pada tahun 1998, terjadi peristiwa yang membuat geger masyarakat Banyuwangi.

Peristiwa tersebut adalah pembantaian yang dilakukan kepada orang-orang yang melakukan praktik ilmu hitam, yang terjadi di kota Banyuwangi.

Peristiwa ini terjadi mulai bulan Februari hingga bulan September tahun 1998. Namun, masih belum ada yang mengetahui motif pasti dibalik peristiwa tersebut.

Pelaku pembunuhan tersebut adalah warga sipil, dan oknum asing yang disebut ninja. Dalam peristiwa ini, setelah dilakukan pendataan dan investigasi lebih lanjut terkait korban. Ternyata korban dalam peristiwa ini bukan merupakan dukun, melainkan guru mengaji, dan tokoh masyarakat.

Selama peristiwa pembantaian tersebut, muncul sosok yang disebut sebagai ninja. Ada 2 penjelasan tentang sosok ninja ini.

Penjelasan yang pertama, ninja tersebut hanyalah orang biasa yang menggunakan kostum serba hitam dan membawa senjata.

Kemudian penjelasan kedua, memberikan penjelasan bahwa ninja tersebut adalah ninja yang memiliki kekuatan super, dan mampu melompat, serta menghilang.

Pada peristiwa tersebut, listrik tiba-tiba mati, dan kemudian selang beberapa detik tiba-tiba ada orang yang sudah meninggal dalam keadaan terbunuh dengan keadaan tragis.

Ketika masa pembantaian terjadi, banyak gelandangan dan orang gila yang tersebar luas di Banyuwangi. Namun, mereka memiliki kepribadian dan sifat yang berbeda dengan orang gila pada umumnya.

Orang gila tersebut mampu menjawab pertanyaan dengan cukup baik, namun ketika ditanya tentang diri mereka sendiri, mereka akan bertindak seperti orang gila. Sehingga, banyak spekulasi yang berkembang di masyarakat, bahwa orang gila dan gelandangan ini ada kaitannya dengan tragedi pembantaian tersebut.

Hal ini dikarenakan, menghilangnya orang gila dan gelandangan tersebut, ketika tragedi pembantaian berakhir.

Banyak orang yang menganggap kasus tersebut merupakan salah satu tindakan dari dukun santet. Namun, dari beberapa penelitian dan penyelidikan lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut, bahwa peristiwa pembantaian tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan para warga sipil untuk kepentingan politik.

Saat ini, Banyuwangi menjadi salah satu kota favorit yang banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun mancanegara. Hal ini yang membuat julukan kota santet, pada kabupaten Banyuwangi kian memudar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here