Sejarah Bu Tien dan Pak Soeharto Semasa Mudanya Dijodohkan

0
718

bacasaja.info Ibu Tien dan Seoharto semasa muda. Menikah karena dijodohkan. Soeharto sempat tak percaya diri awalnya. Akhirnya jadi pasangan ‘Semanis Tebu yang Menyentuh Kalbu’.

TRIBUNMANADO.CO.ID – Cerita jalinan asmara Bu Tien ( Siti Hartinah ) dan Pak Harto ( Soeharto ), dari awal hingga maut memisahkan.

Jalinan cinta kasih keduanya berawal dari perjodohan. Berkenalan di masa muda lalu dipertemukan kembali karena Dijodohkan.

Cinta Bu Tien dan Pak Harto bertumbuh satu sama lain seiring berjalannya waktu setelah mereka resmi menikah pada tahun 1947.

Istilah kekinian ”Menikah Lalu Pacaran”.

Bu Tien yang dikenal dari keluarga Ningrat sempat membuat Soeharto minder tak percaya diri.

(Foto: Cerita cinta Bu Tien dan Soeharto. Dijodohkan, Pak Harto sempat tak percaya diri minder./via Tribun Jabar)

Namun, Siti Hartinah sudah sejak dulu melirik Pak Harto ketika mereka saling berkenalan.

Dilansir dari Intisari dalam artikel ‘Kisah Cinta Pak Harto dan Bu Tien, Semanis Tebu yang Menyentuh Kalbu’,

Soeharto dan Siti Hartinah sudah saling kenal sejak mereka kanak-kanak.

Hartinah dan Harto sama-sama bersekolah di satu SMP, di Wonogiri, Jawa Tengah.

Di tempat itulah, Siti Hartinah yang merupakan adik kelas Soeharto.

Dan kebetulan Siti Hartinah satu kelas dengan Sulardi, sepupu Soeharto.

Soeharto sendiri diceritakan tak pernah melirik ataupun tertarik kepada Siti Hartinah.

Malah Siti Hartinah yang sempat berkelakar kepada Sulardi bahwa suatu saat nanti dirinya akan menjadi kakak ipar Sulardi.

Setelah lulus sekolah, Soeharto melanjutkan ke PETA dan terjun ke dunia ketentaraan. Sementara Hartinah aktif di Laswi dan PMI.

Di Yogyakarta, 1947. Suatu hari Soeharto berkunjung ke kediaman keluarga Prawirowiardjo yang telah lama mengasuhnya.

Keluarga bibi dan pamannya itu belum lama pindah dari Wuryantoro, Wonogiri ke Yogyakarta.

“Harto,” kata Bu Prawiro, yang merupakan adik Pak Karto (ayahanda Soeharto).

“Sekalipun engkau bukan anakku sendiri, aku sudah mengasuhmu sejak ayahmu mempercayakan engkau pada kami.

Aku pikir, sebaiknya segera mencarikan istri untukmu.”

O.G. Roeder menulis dalam bukunya ‘Soeharto–Dari Pradjurit Sampai Presiden’, mengisahkan bahwa Soeharto sempat menolak secara halus tawaran bibinya.

Dia beralasan masih ingin berkonsentrasi di dunia militer. Tapi setelah dibujuk terus menerus, akhirnya Soeharto menurut juga.

Soeharto bertanya, siapa kiranya yang akan dijodohkan dengan dirinya.

Bu Prawiro tersenyum. Dia berkata pelan bahwa Soeharto sebenarnya sudah kenal dengan gadis tersebut.

“Masih ingatkah kamu dengan Siti Hartinah,” kata Bu Prawiro seperti dikisahkan di buku ‘Falsafah Cinta Sejati Ibu Tien dan Pak Harto’.

Soeharto mana mungkin lupa dengan adik kelas manis yang suka mengolok-olok sepupunya sebagai adik ipar.

Tapi, mendadak nyali Soeharto menciut.

Hartinah berasal dari keluarga ningrat. Putri RM Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmati Hatmohoedojo, wedana dari Kraton Mangkunegaran, Surakarta.

Mana mungkin pria dari kelas bawah macam dirinya, bisa bersanding dengan putri ningrat ? Begitu pikir Soeharto.

“Tapi bu, apakah orangtuanya akan setuju? Saya orang kampung biasa. Dia orang ningrat…”

Ibu Prawiro meyakinkan bahwa dirinya cukup dekat dengan keluarga Soemoharjomo. Selain itu, “Keadaan sudah berubah,” terang Bu Prawiro.

Siti Hartinah sendiri dikabarkan sempat membuat pusing keluarganya. Sebab berkali-kali dia menolak lamaran banyak pria yang meminangnya.

Tak lama setelah pertemuan itu, Soeharto dan keluarga bibinya berkunjung ke rumah Soemoharjomo di Solo.

Lantas, Soeharto pun dipertemukan untuk pertama kalinya dengan Hartinah, calon istrinya.

Ketika pertemuan itu pun Soeharto masih belum percaya diri, “apakah dia akan benar-benar suka kepada saya?” batin Soeharto.

Pada kenyataannya, keluarga Soemoharjomo menerima pinangan Soeharto.

Dan akhirnya pun pernikahan diadakan pada 26 Desember 1947.

Acara resepsinya sangat sederhana. Pada malam hari hanya bercahayakan temaram lilin. Tak dihadiri banyak tamu.

(Foto: Cerita cinta Bu Tien dan Soeharto. Dijodohkan, Pak Harto sempat tak percaya diri minder./via boombastis.com)

Saat itu Soeharto berumur 26 dan Hartinah 24.

Menurut RE. Elson dalam bukunya ‘Suharto: Sebuah Biografi Politik’, hubungan cinta dua insan yang berbeda latar belakang status sosialnya itu diuntungkan oleh situasi zaman revolusi.

Era revolusi memungkinkan seorang pemuda desa seperti Soeharto memiliki “pamor” karena berkecimpung sebagai perwira militer yang memiliki tempat terhormat pada masa itu.

Itulah yang membuat gambaran Soeharto berbeda di depan mata calon mertuanya, selain tentu saja karena hubungan dekat keluarga pamannya dengan orangtua Hartinah.

“Perkawinan kami tidak didahului dengan cinta-cintaan seperti yang dialami oleh anak muda di tahun delapan puluhan sekarang ini.

Kami berpegang pada pepatah, ‘witing tresna jalaran saka kulina,” kata Soeharto kepada Ramadhan KH, dalam ‘Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya’.

Tak ada bulan madu bagi mereka karena tiga hari setelah pernikahan, Soeharto harus kembali ke Yogyakarta untuk berdinas. Mereka pun tinggal di Jalan Merbabu Nomor 2.

Seminggu setelah itu, Soeharto harus meninggalkan sang istri karena ditugaskan ke Ambarawa untuk menghadapi serangan Belanda dari Semarang.

Menjadi istri tentara di zaman Perang kemerdekaan memang berat.

Bahkan, saat harus melahirkan anak pertamanya, Hartinah terpaksa tak bisa ditemani Soeharto yang sedang bertempur. Meski begitu, dia tetap tegar dan setia.

Pernah suatu hari, Soeharto terlihat penat karena tugas militer dan hampir menyerah.

Hartinah dengan lembut berkata, “Aku dulu menikah dengan tentara, bukan dengan sopir. Jadilah tentara yang bermartabat.”

Dalam otobiografinya, Soeharto menulis ia dan sang istri selalu menjaga ketentraman rumah tangga dengan cinta dan pengertian.

Tak bisa dipungkiri, cinta kasih dan dukungan yang diberikan Hartinah menjadi pendorong karir Soeharto sebagai presiden.

Layaknya seperti pasangan lain, cemburu dan cekcok suami istri karena juga dialami Soeharto dan Ibu Tien.

Bahkan, Pak Harto menyinggung takkan ada orang ketiga, hanyalah Ibu Tien yang akan menjadi Nyonya Soeharto.

Namun semuat itu, baik Soeharto maupun Siti Hartinah bisa menempatkan kecemburuan secara bijak.

“Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto,” demikian tulis kata Pak Harto.

Selama 49 tahun mereka hidup berdampingan. Sampai Hartinah berpulang pada 1996.

Dan, 12 tahun kemudian, Soeharto menyusul wanita terkasihnya untuk kembali bersama.

Setelah Bu Tien wafat, sempat beredar isu yang menyebut penyebab meninggalnya istri Soeharto itu adalah gara-gara baku tembak antara Tommy Soeharto dan Bambang Trihatmodjo

Isu tersebut menyebutkan kalau Tommy dan Bambang saling berebut proyek mobil nasional, sehingga terjadi aksi baku tembak yang kemudian menewaskan Bu Tien

Namun, isu tersebut dibantah dengan tegas oleh mantan Kapolri Jenderal Polisi Purnawirawan Sutanto dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories”

“Itu adalah rumor dan cerita yang sangat kejam dan tidak benar sama sekali.

Saya saksi hidup yang menyaksikan Ibu Tien terkena serangan jantung mendadak, membawanya ke mobil,

dan terus menunggu di luar ruangan saat tim dokter RSPAD melakukan upaya medis.

Oleh karena itu, Sutanto pun berharap agar masyarakat tidak termakan rumor tersebut.

“Saya harap jangan sampai rumor tidak benar itu tetap dipercaya oleh sebagian orang yang hingga kini terus menganggapnya benar,”ujar Sutanto.

Di samping itu, Sutanto juga menceritakan momen terakhir Bu Tien menjelang wafat

Sutanto memang pernah menjadi ajudan Soeharto dari tahun 1995 hingga 1998.

Satu di antara kenangan yang masih diingat oleh Sutanto adalah saat dia menjadi saksi detik-detik wafatnya Bu Tien Soeharto.

Saat itu, dia baru saja menemani Soeharto memancing di Anyer, pada Jumat, 26 April 1996.

Ketika Soeharto sedang memancing, rupanya Bu Tien sedang berada di sentra pembibitan buah Mekarsari.

Menurut Sutanto, saat itu Bu Tien terlalu asyik, dan bergembira melihat sejumlah tanaman yang sedang berbuah di tempat itu.

Sehingga, dia pun kurang memperhatikan kesehatannya.

Padahal, sebenarnya Bu Tien tidak boleh berjalan terlalu jauh dan lama.

Alasannya, Bu Tien memang sedang mengidap penyakit gangguan jantung.

Saat Soeharto kembali ke rumah, dan bertemu sang istri pada sore harinya, menurut Sutanto, suasana berlangsung seperti biasanya.

Meski demikian, kala itu Bu Tien tetap harus terus beristirahat karena kelelahan.

Namun, sesuatu tiba-tiba terjadi pada Minggu (28/4/1996) dini hari.

Tepatnya, sekitar pukul 04.00 WIB.

“Baru pada Minggu dini hari sebelum subuh, sekitar pukul 04.00, Ibu Tien mendapat serangan jantung mendadak,” kata Sutanto, seperti dikutip dalam buku “Pak Harto, The Untold Stories”.

Saat itu, sang Ibu Negara terlihat sulit bernapas.

Oleh karena itu, Bu Tien kemudian dibawa ke RSPAD Gatot Subroto.

“Saya melihat dokter Kepresidenan, Hari Sabardi, memberi bantuan awal pernapasan dengan tabung oksigen.

Saya sendiri turut membawa Ibu Negara dari rumah ke mobil dan selanjutnya ke RSPAD.

Saat itu, selain Pak Harto, Mas Tommy dan Mas Sigit ikut mendampingi,” sambung Sutanto.

Sejumlah upaya medis untuk menyelamatkan Bu Tien pun dilakukan oleh tim dokter, meski pada akhirnya Bu Tien wafat.

“Sekitar pukul 05.10, Ibu Tien menghembuskan napas terakhir dan meninggalkan berbagai kenangan kepada seluruh rakyat Indonesia,” kata Sutanto.

Sutanto juga menjadi saksi kesedihan Soeharto saat itu

“Saya menyaksikan langsung bagaimana Pak Harto mengalami kesedihan yang amat mendalam,”kata Sutanto

Menurutnya, bagaimanapun seseorang pasti akan sedih saat kehilangan pendamping hidupnya selama puluhan tahun.

“Ibu Tien telah banyak berkorban dan menemani Pak Harto dalam suka dan duka.

Namun, dalam keadaan itu Pak Harto tetap nampak tegar, tenang, dan tabah,”ujar Sutanto.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here